Skip to main content

MALAM LEBARAN

Bulan di atas kuburan


Begitulah puisi super pendek garapan Sitor Situmorang. Puisi itu ditulis di malam lebaran 1954 sepulang dari rumah Pramoedya Ananta Toer. Niatnya ingin bersilaturahmi, namun sayang, tempo itu rumah Pram kosong. Sitor pun pulang berjalan kaki. Ketika melewati pagar tembok berwarna putih, Sitor merasa tergoda untuk menengok isi di balik tembok. Ia pun mendekat dan berjinjit sambil membuka lebar-lebar matanya. Ternyata tempat itu adalah kuburan. Saat itu, ia juga melihat bulan yang menggantung di langit menerangi kuburan yang kelam. Terciptalah puisi “Malam Lebaran”.


Perkataan Sitor itu dapat dilacak dalam buku Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Eneste, 2009). Puisi mengandung imajinasi. Namun orang masih mempertanyakan logika puisi di atas. Katanya: tidak mungkin di malam lebaran (1 Syawal) ada bulan. Memang masuk akal. Tapi, mungkin saja malam lebaran yang dimaksud Sitor adalah malam lebaran haji (10 Zulhijah). Jadi secara logika bulan berpeluang hadir di atas kuburan pada tempo itu.


Beruntung, puisi itu tercipta lebih dari setengah abad silam. Ia bisa begitu puitis dan eksotis. Saya tak dapat mengimajinasikan bila puisi itu ditulis pada pertengahan 1960-an dan Sitor sedang berada di Surabaya. Saya membayangkan Sitor suka berjalan-jalan. Ia melihat banyak perkuburan-perkuburan yang alih fungsi menjadi perkampungan seperti, kawasan Kupang Gunung, Putat Jaya, dan Giri Laya. Kuburan, tempat tinggalnya orang mati dijarah dijadikan tempat tinggal orang hidup. Sitor bersedih, namun masih nekad jalan-jalan. Beberapa saat kemudian Sitor menjadi saksi perkuburan Giri Laya dipermak menjadi rumah bordil, yang lebih dikenal masyarakat luas sebagai kawasan Dolly.


“Ratusan orang tiap hari melakukan persetubuhan bebas di atas ‘makam’ yang telah disulap menjadi wisma-wisma. Tidak pernah terdengar kabar bahwa ada pasangan yang tidak bisa dicopot kelaminnya satu dengan yang lain, sebagaimana mitos yang diyakini orang Jawa,” kata Purnawan Basundoro, lewat buku Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin Kota Surabaya 1900-1960an (2013).  Jutaan rupiah berpindah tangan dari lelaki hidung belang ke pelacur. Kuburan menjadi dipan, tempat cairan selangkangan berceceran. Barangkali Sitor ingin menangis, soalnya tak mungkin ia menulis: Malam Lebaran/ Selangkangan beradu di atas kuburan. Menjijikan.


Saya masih tak bisa membayangkan, bila Sitor muak di Surabaya dan memutuskan pindah ke Sukoharjo setengah abad kemudian. Kota baru, suasana baru. Ia pun kembali bersemangat jalan-jalan. Kebetulan, ia mendengar pengumuman penyelenggaraan pasar malam di pertengahan Februari lalu. Sitor ke sana. Keramaian sudah dirasakannya sebelum belokan terakhir ke jalan menuju pasar malam. Ia melihat kelebatan sorot lampu dan musik yang dimainkan. Namun betapa kagetnya Sitor setelah sampai di lokasi, ternyata itu sebuah tanah kosong di sekitar Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pracimaloyo. Ia menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya: Pasar malam di sekitar kuburan.


Akhirnya Sitor bergeser ke kota sebelah. Tepatnya di dusun Banyubening, Gondangrejo, Karanganyar. Belum satu bulan ia tinggal di sana, jantung Sitor seakan mau loncat keluar. Ia menyaksikan 700 kuburan di desa itu terkena proyek pembangunan Jalan Tol Solo-Mantingan I. Sebagai ganti ruginya, pemerintah mengeluarkan Rp 2 juta untuk kuburan tanah dan Rp 4 juta untuk kuburan bernisan. Sepakat, ahli waris pun bersama warga sekitar bekerja bakti memindahkan kuburan sanak saudaranya (Solopos, 14 Maret 2016).


Sitor tak ikut kerja bakti. Ia sibuk berpikir, pengeluaran pemerintah itu tak seberapa jika membayangkan uang yang didapat setelah selesainya pembangunan jalan tol itu. Setiap mobil yang lewat harus membayar. Padahal setiap hari ada ribuan mobil yang lewat. Tinggal dikalikan saja dengan tarifnya. Pendapatan itu semakin meningkat setiap kali edisi mudik lebaran. Huh! Teringat puisinya dulu, Sitor membayangkan jika ia tinggal di desa itu sampai pada malam lebaran. Di malam lebaran apapun, Sitor tidak akan dapat melihat bulan. Ia hanya mendapati jalan di atas kuburan. Sulit rasanya untuk menulis: Malam Lebaran/ Jalan di atas kuburan. Puisinya menjadi wagu dan tidak merdu.


Lelah hati, lelah fisik. Sitor lelah terus mengembara. Ia bermaksud menyelesaikan tulisannya di sana. Ia mencari ide lewat koran-koran. Namun entah kenapa, ingatan soal kuburan selalu membawanya menghadapi kuburan-kuburan bernasib sial. Di koran Kompas, selama dua hari berturut-turut (14-15 Maret 2016)  menurunkan laporan mengenai sosok yang bergentayangan di perkuburan Jakarta. Sosok itu bukan hantu, melainkan para calo, pengemis dan preman.


Sejumlah korban pencaloan diwawancarai. Untuk mendapatkan tempat memakamkan jenazah, harga awal dari calo Rp 4 juta bisa dinego. Padahal jika mengurus sendiri hanya butuh Rp 100.000, lengkap dengan fasilitas penggalian liang, tenda, dan alat pengeras suara. Maraknya pencaloan tanah makam itu diperparah lagi dengan hadirnya pengemis dan preman. Permohonan doa peziarah belum selesai dipanjat, ia sudah dimohon memberi uang. Benar-benar sial.


Sitor kini mengerti. Kuburan tak lagi keramat dan sakral. Kuburan bukan pusaka yang perlu dijaga dan dihormati, seperti perkataan Paku Buwono I saat mengenang pusaka-pusaka keraton: Betapa sedihnya hati saya bahwa semua pusaka telah diambil oleh putera saya raja (Amangkurat Mas), tetapi saya tahu bahwa sekalipun semua barang pusaka yang lain pun diambil, namun kalau saja masjid Demak dan makam Adilangu (Sunan Kalijaga) tetap ada, maka itu sudah cukup. Hanya dua inilah yang merupakan pusaka sejati Tanah Jawa (dalam Soemarsaid Moertono, 1985).


Sitor merana. Saya tak mau ia begitu. Maka saya hapus imajinasi saya. Sekian kabar tentang nasib perkuburan mengajak kita insaf pada jagad yang semakin diperbudak uang. Orang hidup memang membutuhkan uang, tapi tidak bagi orang mati. Maka tak sepantasnya merebut rumah orang tak bergerak dan tak bernapas yang ditimbun tanah, sebagai lahan mendapatkan uang. Kita juga akan mati. Kita berharap kuburan adalah artefak “penghormatan dan pengkudusan” kita pada yang mati. []