Skip to main content

POVPOV

Zine yang ingin menjadi ruang dialog dan dokumentasi satra anak Indonesia. Cocok untuk belajar menulis.
Redaksi: Elfira Prabandari, Han Widyono, Nai Rinaket. Email: povpovzine@gmail.com

Povpov telah diinisiasi kehadirannya pada November 2025, di ruang tamu Bentara Budaya Yogyakarta. Rapat redaksi pertama kali diselenggarakan pada Desember 2025 sehingga terbentuklah format zine yang diinginkan. Meski demikian, nama Povpov baru disepakati pada 1 April 2026 oleh Han, Ira, dan Nai. Rencananya, edisi perkenalan PovPov akan dirilis pada Juni 2026 bersamaan dengan penyelenggaraan Festival Mekar Pukul Empat di Kampoeng Media, Yogyakarta.


Povpov hadir untuk menjadi ruang belajar bersama sekaligus mendokumentasikan ide-ide dan pandangan dari siapapun soal sastra anak Indonesia. Kami percaya, perbedaan pendapat hanya akan memperkaya khazanah sastra anak Indonesia bukan untuk menghakimi, apalagi menjatuhkan sesuatu.

Damai di Butulan

Damai di Butulan adalah Han Widyono dan Nai Rinaket, sebuah duo yang senang menjelajahi berbagai kemungkinan kerja berbasis teks. 

2025

WAH WAH WAH

Foto: Han Widyono, Nai Rinaket
Teks: Maruahal Manurung, Han Widyono, Susantini, Yefta Aditya W,  Setyaningsih, Nai Rinaket, Agriani Novita.
Editor: Han Widyono

Gunung Ungaran memiliki daya tarik yang super besar. Geolog Belanda yang jatuh cinta pada Indonesia, Junghuhn, pernah mendaki Ungaran dan terpukau pada keanekaragaman hayatinya. Pagi itu, kami dibuat paham oleh keindahan alam Gunung Ungaran yang tertimpa sinar mentari.


Peralihan alam yang gelap ke terang seperti menggerakkan tangan saya untuk memotret lebih banyak dari biasanya. Dalam 10 jam pendakian tektok itu saya mengambil sekitar 600 foto. Setelah digabungkan dan dikurasi bersama dengan Nai Rinaket, terpilihlah foto-foto yang dimuat dalam zine Wah Wah Wah ini.


Selain menyumbangkan foto-foto, saya juga menulis dan mengedit tulisan teman-teman Jolalimangan di zine iki. Ini zine yang akan menjadi saksi pertemanan kami.

2025

Bermain Waktu

Zine "Bermain waktu" lahir dari proyek pembuatan kalender 2025 oleh Nai Rinaket. Ia yang membuat ilustrasi berlatar Desa Watubonang, Ponorogo sebagai latar cerita bisu anak-anak membuat layang-layang. Zine ini kemudian dilengkapi dengan narasi pendek. Kemudian saya melengkapinya dengan narasi tentang Desa Watubonang.


Proyek ini merupakan duplikasi sekaligus keberlanjutan dari pembuatan kalender "Syahdan" tahun 2019. Waktu itu Nai membuat ilustrasinya, sedangkan saya menulis sebagian narasinya. Saya pun turut senang karena melalui zine Bermain Waktu ini, Nai seperti berusaha mendekat pada dusun tempatnya tumbuh dan berkembang. Ia yang "tercerabut" mulai berpikir soal tanahnya.